Rabu, 09 Februari 2011

Gubahan Syair Penantianku Untuk-Mu

Rabb, izinkan aku bersandar merebahkan diri hina ini kepada-Mu
Menyenandungkan lirik kesunyian tanpa syair penderitaan
Rabb, bantu hamba meniup irama keikhlasan dalam ketukan nada pengorbanan,
menyanyikan kesabaran dalam riuh amarah dendam,
dan menarikan bait-bait asa harapan dalam kumpulan harmoni hidupku

Rabb, telah kutulis bermacam puisi hati yang terukir entah dimana
Mungkin kisah ku terlalu klasik untuk dikenang atau terlalu munafik untuk dibanggakan
Tapi Ya Rabb, izinkan aku mengukirnya dalam relung hati terdalam yang mungkin hanya kita berdua yang tahu…yah, mungkin…..

Aku memang tak tahu, tak mau tahu dan memang tidak perlu tahu
Siapa dia, dimana dia, kapan aku bertemu atau memang sudah bertemu?
Kuakui aku sangat merindukan ia kini…tapi kusadari Engkau telah menyiapkan waktu yang tepat untuk kami

Waktu dimana aku dan ia bertemu dalam satu titik ujung akhir penantian kami
Satu titik yang teriring dalam alunan doa dan sujud malam kami kepada-Mu
Titik akhir dimana kami tersenyum dan bersyukur atas kebesaran-Mu
Tapi Ya Rabb, Jika cinta sejati ku hanya bisa kutemukan saat kuhembuskan nafas terakhirku
Bagiku itu cukup jadi pelipur lara sampai aku bertemu dengan-Mu kelak, amin

Senin, 07 Februari 2011

Kak, aku ingin jadi..............................

Tak kurang lima menit dan cukup dengan selembar dua ribu rupiah, angkot jurusan jasinga mengantarkan aku dan temanku Puspi ke ‘wahana menyenangkan’ . “Ayo adik-adik ikutin kakak ya sayang, ei….bi..si…di….ie….ef…ji….way en zed…..Ayo semangat belajarnya, kita ulangi lagi ya! Yang belakang denger suara kakak kan sayang? Yuk nyanyi bareng lagi ya dek…..:)” Yup, kemarin 7 Februari 2011 adalah hari pertamaku mengajar di Panti Asuhan Tarbiyatul Yattama di desa Cibadak Ciampea, Kabupaten Bogor.


Hm…..akhirnya aku kembali melihat senyum harapan anak bangsa negeri ini. “Aku ingin jadi dokter kak…..Kalo aku ingin jadi polwan sekaligus pramugari (he..he..double dong gajinya :0)……Kak, kalo aku ingin jadi sekretaris di kantoran…kata emak kerjanya enak”. Ah…..kelu rasanya lidah ini, aku tak berani mematahkan cita-cita mereka dengan menyadarkan bahwa pendidikan maksimal mereka hanya bisa sampai SMK, yayasan hanya sanggup sampai itu selebihnya biar nasib yang menjawab kata Bapak pengurus panti….



“Ya, alhamdulillah lulusan panti ini sudah ada yang kerja di bengkel, pabrik, sopir, nyablon, ngejahit…..” Ucapan pak soleh dua hari yang lalu pun kembali menambah kelu lidahku. Ya Rabb, biarkan anak-anak ini memiliki mimpi. Berikanlah mereka senyum optimis dan beri mereka ‘lupa’ akan keterbatasan mereka, amin……

Tetap semangat adik-adikku!




Sabtu, 05 Februari 2011

Politik Kampus Rakyat sudah “Merakyat”kah??? : Refleksi dari Politik Nasional Kini

APA KABAR INDONESIA KINI?


Politik kita sudah lama mengalami mediokratisasi. Dalam tataran Nasional, reformasi terbukti tidak menghasilkan negarawan, melainkan teknisi politik belaka. Teknisi politik adalah mereka yang menguasai siasat untuk menundukkan lawan politik melalui tekanan psikopolitik ataupun finansial. Kekuasaan menjadi sesuatu yang tidak dipertanyakan, melainkan sekadar dipertahankan. Benar atau salah sebuah kebijakan disandarkan pada kekuatan lobi dan bukan transparansi dan akurasi data.

Demokrasi menjadi ajang negosiasi antar- elite yang mengabaikan akar rumput. Tidak ada debat yang bermutu! Semuanya sekadar topeng bagi distribusi pendapatan yang berjalan tanpa suara. Degradasi mutu politisi diperkuat lagi oleh kenyataan bagaimana dinamika elit politik sering kali lepas dari aspirasi akar rumput. Elite politik hanya bermain dengan logika sendiri bernama kekuasaan. Namun, sering kali elite malah lupa kepada ‘rakyat’-nya begitu berkuasa.

Berkorelasi dengan iklim politik negeri ini, Tahukah kalian bagaimana siklus kepemimpinan bangsa ini? Ya, benar! siklus kita adalah ; Ketika muda mengkritik - Kemudian memimpin - selanjutnya ketika tua malah dikritik yang muda……begitulah seterusnya, KONYOL!!! Titik krusial persoalan pun bukanlah pada pola konflik antara pro-status quo(senior) versus pro-perubahan (junior). Namun, justru yang menjadi persoalan adalah ada atau tidak-nya transformasi kepemimpinan. 

Tranformasi kepemimpinan pun hanya akan terjadi jika masing-masing aktor mau melepas keegoisan pribadi dan meleburnya menjadi keputusan bersama, bukan hanya sibuk ribut dalam “ruang sempit” mereka. Tanpa mau peduli dengan kebingungan publik melihat ulah para elite politik yang kekanak-kanakan tersebut.
Politisi pendahulu kita pun yang berangkat dari kalangan intelektual, seperti Soekarno, M Hatta, dan M Natsir tidak pernah berpikir,“Logika politik dan intelektual sangat berbeda karena dunianya juga sangat berbeda…”. Akan tetapi mereka berpikir,”Point penting-nya adalah bagaimana menyatukan gerak kebenaran yang diyakini di dunia intelektual bisa menjadi keputusan politik!”

Politik pun bukan hanya sekedar bicara menang-kalah dalam merebut kekuasaan atau sekedar memilih dan dipilih. Pemikiran yang sangat sempit, kawan! Kita belajar dari kepemimpinan Nasional era Reformasi selama 10 tahun terakhir ini. Bagaimana parpol muncul mendadak, menjadi besar, lalu turun terus. Bagaimana seorang pemimpin atau figur naik tiba-tiba dengan dukungan massa mayoritas, kemudian turun dan lenyap seketika. 

Toh’ tidak semua yang menang itu akhirnya berkuasa dan tidak semua yang berkuasa pada akhirnya memimpin. Saya malah khawatir negeri kita ini sebenarnya dipimpin oleh The Ghost Leaders (para pemimpin bayangan). NEGARA DALAM NEGARA! Dimana untuk sekedar berkunjung ke Tambang Freeport Papua sendiri pun harus izin ke Negara lain, MIRIS!


POLITIK KAMPUS IPB?
Oke, untuk sekarang kita memang belum punya ‘taring’ berbicara di tataran politik Nasional. Lantas, bagaimana dengan kondisi politik dunia terdekat kita yakni kampus IPB menjelang Pemira 2010 kini? Apakah sama dengan politisasi elitis nasional di atas? Terlepas dari penilaian publik IPB, akan sangat disayangkan jika Pemira IPB baik KM maupun Fakultas hanya ‘dipanasi’ oleh para elite kampus dan bukan dari mahasiswa ‘akar rumput’. Bukankah hak berpolitik milik semua orang di negeri yang mengaku demokratis ini??? 

Bercermin pada tulisan di awal, bahwa tidak semua yang menang itu akhirnya berkuasa dan tidak semua yang berkuasa pada akhirnya memimpin. Sehingga pada dasarnya kita bukan sekadar bicara tentang persoalan figur. Kita seharusnya berpikir tentang ide-ide besar dan kapasitas calon-calon pemimpin kita. Modal dasar untuk membawa IPB ke arah mana dan akan sebagai apa ke depannya dalam kontribusinya di masyarakat khususnya pertanian?

Visi IPB 2008-2013 yang berbunyi "Menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia dengan kompetensi utama pertanian tropika dan biosains, serta berkarakter kewirausahaan“ . Apakah sudah berkorelasi dengan visi dan misi para Capresma dan Cawapresma IPB Pemira 2010 dalam tataran perannya sebagai Lembaga Kemahasiswaan Pusat IPB?

Seperti diutarakan aktivis gerakan sosial transnasional Hilary Wainwright (2009) dalam Rethinking Political Organisation. Kekuasaan haruslah dimaknai bukan sebagai praktik dominasi, tetapi praksis untuk menggerakkan kapasitas transformasi bersama rakyat (power as transformative capacity). Rakyat adalah subyek dalam proses politik yang menempatkan politisi sebagai fasilitator dan penghubung antara kepentingan publik dan dinamika politik dalam arus politik utama.

Untuk kalian ‘Rakyat Intelektual’ Kampus IPB, mari kita manfaatkan momentum Pemira KM IPB 2010 ini untuk berkontribusi secara riil dalam rangka memajukan dunia pertanian yang lebih baik lagi ke depannya.

(Diposkan menjelang PEMIRA IPB November 2010)

Kapan Momentum Kepahlawanan Kita ??? (Refleksi Catatan Hidup Seorang Aktivis)

            Entahlah,  aku tak tahu sudah berapa kalinya aku harus berdebat dengan dosen ini untuk teori hukum yang ia ajarkan. Bagiku dosen bukanlah Tuhan yang benar dalam segala hal! Aku tak peduli dan menyesal untuk ‘kenakalanku’ hari ini…..Ya, aku telah meludah di depan dosenku!!!  Dan  akupun dipastikan mendapat nilai E  di tahun akhirku sebagai mahasiswa Fakultas Hukum salah satu PTN di Sumatera ini. Bagiku itu bukan kiamat, aku merasa aku benar jadi mengapa mesti takut apalagi meyesal.

            Aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama. Bahkan untuk memilih partai dalam pemilu pun kami sekeluarga harus memilih parpol yang nyata-nyata menyebut merk Islam dalam kampanye-nya, parpol di luar itu kata ayahku parpol orang murtad!, he,,he,,,aku pun hanya bisa ‘nrimo’ dan tersenyum menerimanya. 

Tapi itu dulu, kini semenjak aku menjadi mahasiswa sekaligus aktivis yang telah banyak melihat dunia luar, aku merasa pemikiran seperti itu terlalu sempit apalagi di Negara yang majemuk ini. Maka ketika pemilu pun aku memilih partai Nasional dan bukan partai Islam, otomatis ini pun membuat ayahku berang…sekali lagi, aku tak peduli, toh ini prinsip hidup yang telah kuyakini.

            Pemikiran Bung Karno sangat mewarnai hidupku, di kampus hijau ini aku aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia selaku Koordinator Sumatera bagian selatan. Entah sudah berapa kali konsolidasi ‘bawah tanah’ dan lobi-lobi politik kugencarkan untuk merebut tampuk kekusaaan politik di kampus ini. Aku akan membela orang yang memang kuanggap benar, selebihnya aku tak peduli…jika pun orang2 yang kubela salah, kuyakini akulah orang pertama yang menjadi lawan bagi mereka. Di sini aku banyak belajar tentang ‘realitas’ dalam politik yakni tidak semua teman adalah ‘teman’, karena tak jarang teman dalam politik jadi musuh dalam selimut. 

             Selepas dari kampus ini, ayahku telah menyiapkan pekerjaan untukku…yakni PNS!!!! Bagiku ini konyol, saat mahasiswa aku mati-matian mengkritik pemerintahan dan kini setelah keluar dari kampus aku malah menjadi bagian yang kukritik selama ini. Dan pada akhirnya ‘idealisme’-ku pun menang aku keluar dari pekerjaan PNS, sebuah jabatan yang mati-matian ayahku dapatkan. Aku pun dianggap anak tak tahu terimakasih……………bagiku tidak masalah, yang penting aku telah mempertahankan prinsip hidup yang selama ini aku yakini benar.

            “Soeharto Koruptor………!!!” merupakan salah satu judul tulisanku yang akan kukirim ke Editor nanti sore untuk turun cetak edisi besok. Entah sudah berapa kali aku dipanggil polisi atau bahkan polisi sendiri yang ‘bertamu’ ke rumahku terkait tulisan-tulisanku ‘nyeleneh’ menurut mereka. Aku tak peduli dan ambil pusing, jika aku harus mati sekalipun karena ini, aku bangga dengan kematianku!!!  

            Berbeda denganku, isteriku adalah PNS sehingga tak heran ketika pemilu meski kami suami istri tapi parpol pilihan kita berbeda. Sudah jadi rahasia umum saat itu, semua PNS dari tingkat pusat sampai RT-RW diwajibkan memilih partai berlambangkan pohon beringin warna kuning. Dan aku seperti biasa dengan tenang mencoblos partai nasionalis minoritas saat itu yakni partai X, sebuah pilihan hati dan bukan paksaan yang dibuat-buat!!!

            Momentum Reformasi 1998 pun meletus dan banyak orang yang menjadi ‘bunglon’, ha..ha…aku pun hanya bisa tertawa melihat lucunya rakyat di negeri ini. Mereka yang selama ini mengelu-elukan sang penguasa dan memandang sinis kekritisanku, kini malah berbalik menghujat sang penguasa beserta kroni-kroninya termasuk partai beringin sebagai penyebab krisis ekonomi dan politik saat itu.

            Seiring dengan waktu, aku telah masuk ke jajaran kepengurusan resmi partai nasionalis X. Aku sadari meski pun organisasi ini kuyakini, akan tetapi ini bukan organisasi kumpulan malaikat. Banyak intrik politik busuk di dalamnya, uang dan materi banyak bermain, dan tidak aku pungkiri hampir semua partai pasti pernah melakukannya. Pada saat ini, jujur sangat sulit aku mempertahankan idealisme yang aku banggakan selama ini apalagi di tengah tuntutan hidup kami sekeluarga.

            Awal tahun 2002 aku membuat ‘lawakan’, untuk pertama kalinya di Kabupaten kelahiranku diadakan Open Recruitment Bupati. Aku bersama motor Honda Astrea-ku pergi mendaftar ke kantor pemda yang berjarak 32 Km dari rumah. Sampai di sana kuparkir-kan motor ku di tengah-tengah mobil mewah para calon bupati lainnya. Aku sadar diri dengan kondisi ku seperti ini  sangat mustahil untuk lolos menjadi Bupati. Sesampai di sana, persyaratan tes kesehatannya yang mencapai 500 ribu cukup membuat  kantong-ku mengkerut, he..he..:)

            Aku tak peduli dengan tanggapan sinis mereka terhadap aksi ‘lawakan’-ku, toh tujuan utamaku hanya satu. Aku ingin menyampaikan pesan kepada mereka bahwa masih ada orang (tanpa harta) yang siap jadi ‘pedang’ yang akan meluruskan mereka. Mereka yang dengan uang dan powernya tapi miskin kapasitas berani memimpin.  Mereka yang berkampanye membela rakyat, tapi justru penghisap darah rakyat..........

             Hari itu pada tahun 2004, aku kembali terkenang dengan catatan Gie yang berbunyi “Lebih baik saya diasingkan, daripada menyerah terhadap kemunafikan.”  Aku tak habis pikir dengan teman-temanku di partai X ini, yang sibuk melobi sana-sini untuk menjadi Caleg Pemilu 2004 ini. Aku tak peduli bahkan akan mendukung jika memang mereka pantas dan punya kapasitas untuk mencalonkan diri. Tapi untuk sekian kalinya sense idealisme-ku tertantang. Ada begitu banyak manuver kotor hilir mudik di depan hidungku…..tapi apa daya, aku tak punya power. Semua kekritisan-ku yang kulempar sendiri di partai ini malah jadi bumerang bagiku. Aku dikucilkan di partai yang selama ini aku bela bahkan tak jarang aku prioritaskan dibandingkan istri dan anak-anakku sendiri, Miris…..!!! 

            Pemilu 2004 ini pun aku nekat maju mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dari partai x dengan no urut 3. Aku tak peduli, meskipun ketua DPP jelas2 memberi statement di publik hanya mendukung no urut 1 dan di luar itu coblos saja gambar partai tanpa no urut caleg. Hasilnya pun sudah ditebak, aku kalah dalam pemilu 2004.  Meskipun telah berpuluh-puluh juta uang kukeluarkan, aku tak terlalu kecewa toh’ sekali lagi aku hanya ingin memberikan pesan kepada mereka. Bahwa masih ada orang2 yang tanpa uang siap menjadi ‘pedang’ bagi mereka. Sebuah gertakan yang membangunkan tidur malas mereka agar lebih siaga!!!     

            Tahun 2006, “Saksikan Aku Seorang Muslim” sebuah judul buku yang dibaca salah satu putriku yang baru saja menjadi mahasiswa di salah satu kampus rakyat ternama. Seketika itu juga aku marah kepadanya, buat apa membeli buku agama lebih baik membeli buku pelajaran yang lebih bermanfaat. Putriku pun hanya diam, sebuah reaksi jitu darinya untuk menghentikan kekesalanku. Sebenarnya aku heran dengannya , semenjak menjadi mahasiswa begitu banyak perubahan yang terjadi padanya. Sempat terlintas di pikiranku, apakah ia menganut aliran Islam aneh2????.....Tapi entah mengapa aku pun tak mau terlalu ambil pusing termasuk saat ia memakai jilbab tanpa izin dulu kepadaku.

            Tahun 2008, aku berkunjung ke kosan putriku. Tak sengaja aku melihat buku-bukunya yang lagi-lagi berbau agama! Kulontarkan pertanyaan padanya apakah ia masuk golongan partai XXX yang mengaku bersih-profesional tapi toh nyata-nya sama saja dengan partai Islam yang lain. Aku berdebat dengannya tentang Indonesia, Nasionalisme, dan Negara Islam……… dan perdebatan pun aku ‘menangkan’, yah mungkin………….. 

            Entah mengapa semenjak itu aku sangat ingin mengenal Islam, aku sadar hidup ini hanya sementara. Apalagi sakit jantung yang hampir tujuh tahun menggerogotiku semakin parah. Konflik internal partai maupun keluarga semakin membuat nafasku semakin pendek. Tapi hari ini aku ingin sekali membeli buku2 agama…..sama seperti putriku.

            11 Juli 2008 malam, Selamat Ulang Tahun istriku tercinta. Mohon maaf belum bisa membahagiakanmu dan menjadi pendamping hidupmu yang terbaik. Besok Sore Insya Allah aku sampai di rumah, jaga anak2 baik2 ya sayang…………………..Anak-anak, Bapak bangga dengan kalian!!! Terimakasih untuk semuanya……. 

            12 Juli 2008, akhirnya buku-buku Islam yang kuinginkan kubeli. Buku-buku yang masih rapih terbungkus plastik bening itu aku masukkan ke dalam tas hitamku. Tapi Ya Rabb,,,,,,ada apa dengan diriku, mengapa jantung ini seakan berhenti, aku masih di jalan Ya Rabb….aku belum sempat bertemu istriku, anak-anakku di rumah,,,,,,,,,,,,,,dan ambulans pun mengantarkan jenazahku ke rumah tepat sore hari sesuai janjiku di telepon semalam dengan keluargaku. AllahhuAkbar, janji-Mu telah datang Ya Rabb.
KAPAN MOMENTUM ITU DATANG ???      


 "Maka ketika ia sampai pada kematangannya, Kami beri kekuasaan dan ilmu pengetahuan."
(QS. Al-Qoshosh: 14)
            Salah satu petikan surat cinta-Nya di atas memberikan pesan bahwa seseorang tidak menjadi pahlawan karena ia melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya. Kepahlawanan seseorang biasanya mempunyai momentumnya, Suatu titik temu antara kematangan pribadi dan peluang sejarah. Akan tetapi kita tidak mengetahui kapan datangnya momentum  itu.


            Catatan hidup aktivis di depan mungkin bisa memberikan contoh, bahwa memang benar mungkin meski pun kita telah melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidup kita. Tapi jika momentum itu belum diberi oleh-Nya maka ledakan kepahlawanan tidak akan pernah terjadi. 

            Akan tetapi sekali lagi para pahlawan sejati tidak pernah mempersoalkan secara berlebihan masalah peluang sejarah. Kematangan pribadi seperti modal dalam investasi adalah lebih penting. Seperti apapun baiknya peluang kita, itu tidak berguna jika pada dasarnya kita tidak punya modal.


(Untuk Apa Aksi Turun Ke Jalan, Untuk Apa Aksi Intelektual, Untuk Apa Aksi Mengabdi Kepada Masyarakat????? Toh’ negeri ini masih saja seperti ini, kita gak punya power, legitimasi…percuma!!!”)


            Untuk pertanyaan dan statement di atas, maka izinkan saya untuk menjawabnya……………………………….
Sehingga usaha manusiawi yang dapat kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan pribadi kita. Mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan cara begini kita telah memperluas "ruang keserbamungkinan" dan sedikitnya membantu menciptakan peluang sejarah. Atau, setidak-tidaknya mengantar kita untuk berdiri di pintu gerbang sejarah. Selebihnya, biarlah itu menjadi wilayah takdir dari-Nya, Insya Allah.


Teruslah Optimis Membangun Bangsa Indonesia yang Lebih Bermartabat, GO ACTION!!!

Idealis VS Pragmatis

“ Dimana mahasiswa???,kerjanya demo, kritik, menyalahkan pemerintah, selebihnya nol!”
“Malas ah aksi jalanan mulu…toh percuma juga, gak bakal didengar pemerintah…..”
“Mending kita belajar yang bener, bangun bangsa dengan prestasi kita…”
“Buat apa aksi turun ke jalan, aksi intelektual, aksi pengabdian ke masyarakat? Toh negeri ini masih saja seperti ini, kita gak punya power, legitimasi…percuma!!!”


Ada perasaan sia-sia yang menjalar perlahan di hati seorang aktivis. Malam itu semua usahanya meyakinkan akan pentingnya sebuah sistem pola pergerakan mahasiswa dalam rangka membentuk sebuah sistem pergerakan mahasiswa yang berintelektual luluh lantak saat itu juga. Rasanya semua energi intelektualnya sudah dikerahkan, Entah sudah berapa kali diskusi seperti ini dilakukan untuk memahamkan saudara-saudaranya di pergerakan mahasiswa kampus ini.

Begitu seterusnya, hingga sampai pertanyaan sederhana itu muncul. “Apakah ada sebuah sistem pergerakan mahasiswa yang membuat masyarakat di negaranya menjadi sejahtera? sehingga kita dapat berbicara. “mari teman-teman kita usung sistem pergerakan mahasiswa A dan kita akan bebas kelaparan setelah itu!”
Inilah realita-nya, sama kasusnya ketika kita para aktivis yang ‘semangat’ mempropagandakan idealisme kita sebagai mahasiswa kepada publik. 

Tapi itulah jurang gap dalam cara kita mengkomunikasikan ‘sistem’ kepada publik. Sementara kita menjelaskan keunggulan ideologi dan sistem yang abstrak, mereka mengharapkan contoh aplikasi yang sukses dalam kehidupan nyata. Sementara kita membanggakan keunggulan di dunia maya, tapi mereka hanya terpesona kepada yang unggul di dunia empiris. Sementara kita membanggakan betapa ’heroiknya’ mahasiswa di momentum reformasi masa lalu, mereka menyaksikan ’keterpurukan’ mahasiswa saat ini. Sementara kita menjelaskan teori, publik memahami teori lebih baik melalui contoh kasus, sekali lagi inilah realita kawan!

Idealis VS Pragmatis
Oke, mungkin ada baiknya kita mulai bertanya, bagaimana caranya kita merakit tools-tools kita? Sehingga kita akan bertemu dengan satu narasi besar yang di mix-kan dengan kapasitas, sumber daya dan manusia. Dalam hal ini kita tidak sedang membenturkan antara idealis dengan pragmatis. Kita khususnya para aktivis tak jarang terjebak dalam persoalan yang picik seperti ini, berpikir idealis kemudian kaku ketika terjun di dunia politik karena menganggap di politik menuntut orang menjadi pragmatis. 

Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, telah gamblang disebutkan bahwa idealisme (idealism) adalah sebuah bentuk penjelmaan norma-norma dasar yang bersifat luhur, dalam prinsip-prinsip dasar yang dipegang seorang manusia. Dari sini, jelaslah bahwa idealisme tidak terikat dengan oleh variabel waktu akan tetapi didapatkan secara kontinu lewat interaksi kita dengan lingkungan. Pragmatisme itu pun sebenarnya filsafat yang berkembang di zaman modern ini, yang intinya adalah mengukur kebenaran suatu kebaikan, suatu ide dengan hasilnya. Sebagian dari ide ini benar, tapi tidak seluruhnya benar. Jadi pragmatis sebenarnya bukan suatu cara untuk menghalalkan segala cara. Lebih dari pada itu, yang terpenting sebenarnya adalah apakah ide kita sesuai dengan realitas yang ada atau tidak? Sebuah sistem yang memang akan menjawab kegelisahan pada dunia nyata dan bukan hanya retorika semata.

Hal itulah yang membuat Soekarno jauh lebih unggul dan cerdas dalam mengelaborasi ide-idenya daripada Tan Malaka dengan ide komunisnya atau Natsir dengan ide Islamnya. Karena narasi Soekarno adalah negara Indonesia negara nasionalis, bukan negara komunis atau negara Islam! Begitu juga Soeharto, yang membuat orde baru besar adalah juga narasi, namanya pembangunan yang di-breakdown jelas lewat REPELITA, ekonomi, kesejahteraan, dsb. Lantas, pertanyaannya selanjutnya ; Mengapa Indonesia masa reformasi kini sangat lambat untuk maju, jawabannya karena sekarang kita belum punya narasi. Kita berada pada masa reformasi. Sebuah masa transisi tanpa narasi, belum ada narasi yang jelas, Indonesia mau dibawa kemana ?


Pergesaran Cara Berpikir
Rendahnya tingkat penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita sebenarnya merupakan realitas-realitas yang berakar pada cara kita berpikir. Tidak ada realitas kita yang tidak berakar pada pikiran kita. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan seluruh potret realitas kita secara apa adanya. Pikiran adalah ruang kemungkinan (space of possibility), dan realitas adalah ruang tindakan yang telah jadi nyata (space of action), jadi hipotesis kita kini makin besar ruang kemungkinannya, makin besar ruang realitasnya.

Sekarang sepakatlah kita, bahwa tindakan-tindakan kita muncul sebagai buah dari benih pikiran-pikiran kita. Jadi pikiran adalah pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan dan menciptakan realitas. Jika sistem kendali tindakan dan realitas kita ada pada pikiran-pikiran kita, hanya ada satu jalan memperbaiki realitas-realitas kita, yaitu mengubah pikiran-pikiran kita. 

Kini, sudah saatnya gerakan mahasiswa bergeser ke cara berpikir yang lebih ”cerdas”, kawan! Dengan menggunakan cermin realitas seperti diatas, persoalan sumberdaya ini muncul karena pada riil-nya pusat perhatian pikiran kita belum bergeser. Kita masih bicara apa yang diinginkan dan belum bicara apa yang sudah dilakukan.


Teruslah Optimis Membangun Bangsa Indonesia yang Lebih Bermartabat, GO ACTION!!!

Bismillah....semoga jadi awalan dan bukan akhiran :)

Aku bercita-cita ingin menjadi pejabat daerah bidang ekonomi. Secara logika, untuk mencapai cita-cita besar maka dibutuhkan rencana strategis. Untuk jangka pendek, aku mempunyai renstra memperdalam ilmu ekonomi dan politik di kampus. Targetannya aku harus mempunyai prestasi akademik dan organisasi atas usahaku sendiri. 

Alhamdulillah pada tingkat dua aku berhasil meraih prestasi The 3rd Winner in Aspiration in Economy “The Effects of Global Warming on Macroeconomy in Indonesia”, yang diadakan oleh Himpunan Profesi Ilmu Ekonomi IPB pada tahun 2007. Satu tahun kemudian aku bersama temanku Qorry dan Meyka berhasil meraih The 3rd Winner Economics Day, yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Atma Jaya. 

Pada tahun 2009, alhamdulillah aku mendapat empat prestasi lomba sekaligus. Aku diberi kesempatan mendapat Juara II Opini Mahasiswa oleh BEM Fakultas Pertanian IPB, Juara III Economic Essay Competition dalam acara “Economic View” oleh Himpunan Profesi Ilmu Ekonomi IPB, The 2rd Young Economist Oleh HIPOTEX-R IPB Tingkat Nasional, The 3rd Young Politics oleh BEM FEM IPB Tingkat IPB. Selanjutnya pada tahun terakhirku sebagai mahasiswa IPB, aku beserta temanku Imam dan Valentina terpilih sebagai Perwakilan IPB dalam Lomba Debat Konstitusi Mahkamah Konstitusi RI tahun 2010. 

Sebagai pengalaman melayani sekaligus memimpin publik, di BEM Fakultas aku dipercaya menjadi Sekretaris Departemen Politik, Kajian Strategis & Advokasi tahun 2007 sampai 2008. Selanjutnya pada tahun 2008 sampai 2009 dipercaya kembali berkontribusi di BEM Fakultas dan Pusat sebagai Kepala Departemen Perekonomian, Ketua Divisi Kajian Ekonomi IPB Social Politic Center IPB, dan staf ahli Presiden Mahasiswa IPB ( anggota Majelis Wali Amanah IPB). 

Meskipun pada tingkat terakhirku sebagai mahasiswa IPB aku menghadapi pilihan yang sulit. Aku harus memilih lulus tepat waktu (empat tahun) atau menunda kelulusan demi bekerja setahun lagi di BEM IPB (Pusat). Akhirnya atas beberapa pertimbangan aku memilih bekerja di BEM Pusat sebagai Direktur IPB Social Politic Center tahun 2009 sampai 2010. 

Pilihan itu kulakukan karena aku merasa belum memberikan yang terbaik untuk publik. Hampir semua prestasiku belum ada yang secara riil bernilai jangka panjang bagi publik. Aku berpikir dunia sosial politik IPB butuh wadah pencerdasan sebagai salah satu program regenerasi kepemimpinan selanjutnya. Oleh karena itu tahun 2010 melalui BEM IPB Pusat, aku mencanangkan IPB Political School dengan aku sebagai salah satu pembinanya.

Alhamdulillah, untuk bidang akademik aku berhasil lulus bersamaan dengan berakhirnya masa kerjaku di BEM KM. IPK terakhirku sebagai mahasiswa Ilmu Ekonomi adalah 3,24 dengan nilai akhir skripsi A. Skripsi hasil penelitianku di bidang ekonomi politik pada daerah Pesisir Barat Lampung.

Aku yakin di luar sana banyak orang yang lebih hebat daripada aku. Akan tetapi aku sangat bersyukur sampai saat ini Allah telah membantuku menepati janji kepada orang tuaku untuk seimbang antara organisasi dan akademik. Sekaligus janji kepada diri untuk optimal menyiapkan diri menjadi pemimpin kelak, Insya Allah.

Flash Back IPB Social Politic Center IPB yuk !

Pada tingkat akhir kuliah, aku diamanahi sebagai Direktur IPB Social Politic Center BEM KM (Pusat) IPB. Biro internal ini bertugas sebagai Tim Manajer keempat Kementrian Kebijakan di BEM KM. Keempat kementrian itu antara lain ; Kementrian Kebijakan Pertanian, Kebijakan Nasional, Kebijakan Daerah dan Kebijakan Kampus. 

Ranah kerja keempat kementrian tersebut antara lain bertanggungjawab mencerdaskan isu (per wilayah) kepada publik, memfollow-up serta mengadvokasikan isu kepada para stakeholder terkait, serta membentuk gerakan riil bermanfaat bagi publik. Praktis, keempat kementrian ini lebih fokus mengurusi gerakan taktis jangka pendek.

Secara garis besar program kerja dan targetan kami yang bekerja di organisasi bidang sosial politik dari tahun ke tahun relatif sama. Sesuai pengalamanku , aksi-aksi mahasiswa di IPB masih bergerak dalam tataran jangka pendek. Proses regenerasi kader mahasiswa yang bergerak di bidang ini pun belum ada. Oleh karena itu pada tahun 2010 aku berinisiatif membentuk IPB Political School (IPS), sebuah program pembinaan sekaligus forum sharing untuk para mahasiswa IPB yang berkecipung di dunia sosial politik. IPS bertujuan menyiapkan kader sospol berkompeten sekaligus menggiatkan kembali gerakan mahasiswa IPB.

Pada awal pembinaan IPS, kami memakai sistem kurikulum bentuk kuliah lalu praktik. Contoh pada materi pertama yakni wawasan ke-Indonesiaan kontemporer dan peran mahasiswa masa kini. Kami menyampaikan materi lewat pemutaran film dan diskusi langsung dengan mantan aktivis senior kampus. Materi awal ini bertujuan membangun sense kekritisan sekaligus kepedulian mahasiswa terhadap isu publik. Mereka pun diharapkan dapat mengetahui perannya dan lebih kontributif nyata. Selanjutnya pada minggu yang sama, para peserta IPS kami ajak melakukan aksi hijau bersama di kampus. 

Seiring perjalanan tidak dapat dipungkiri banyak kekurangan dan hambatan yang harus dihadapi. Anggota IPS yang aktif mulai menurun, hal ini menjadikan aku dan teman-teman (ISPC dan Kementrian Kebijakan Nasional) mulai mengevaluasi sekaligus berusaha mencari terobosan baru. Alhamdulillah waktu itu bertepatan dengan mulai masuknya mahasiswa baru, sehingga kami fokuskan membina mahasiswa baru di IPS. Kurikulumnya pun kami rombak kembali menjadi lebih aplikatif dan menarik bagi peserta. 

Di IPS 2, kami fasilitasi peserta dengan program les untuk mahasiswa baru, informasi beasiswa, fasilitas mentoring langsung dengan kakak senior (isu yang dibahas pun bukan sekedar isu politik), acara kebersamaan seperti makan dan nonton film yang mendidik kami tingkatkan. Kami sadar sebuah tim tidak akan berjalan optimal tanpa dibentuk rasa memiliki serta rasa kebutuhan akan tim tersebut. Alhamdulillah IPS kini sangat berperan penting selaku motor gerakan mahasiswa IPB.

Salah satu bentuk solidaritas kami mahasiswa IPB (termasuk peserta IPS), kami yang bergabung dalam Aliansi BEM se-Bogor sejak 30 Oktober 2010 sampai 5 November 2010 berhasil menggalang dana bantuan. Total dana sekitar 23 juta telah diserahkan secara simbolik kepada Korban Merapi dan Mentawai pada Hari Jum’at 5 November di Apa Kabar Indonesia Pagi TV One. Semoga menginspirasi kita untuk lebih berkontribusi riil bagi Indonesia, amin.

Pengalaman kerja bersama saudara-saudaraku di BEM IPB......

Iklim mahasiswa yang cenderung apatis kini cukup menjadi tantangan bagi kami, apakah aku dan teman-temanku di BEM dapat bekerja dengan optimal? Lantas rencana strategis riil apa yang harus aku dan teman-temanku usahakan? 

Sebagai Direktur IPB Social Politik Center BEM KM, aku bersama teman-teman mencoba merancang kembali sistem koordinasi politik kampus. Hal ini dilakukan berdasarkan pengalaman kami. Pengalamanku selama dua tahun di BEM Fakultas sebagai sekretaris Departemen politik, kajian strategis dan advokasi serta kepala Departemen Perekonomian, alhamdulillah cukup membantuku.

Dalam rangka mengoptimalkan tim kerja ISPC maka sistem kerjanya kubagi menjadi tiga yakni: 1. Tim Media dan Hubungan Luar, bertugas penghubung antara ISPC dengan pihak terkait misalnya media, dosen serta mempropaganda isu ; 2. Tim Garda Aksi, bertugas mengkoordinasikan PJ Garda Aksi setiap Fakultas, penanggungjawab Garda Pejuang dan Tim Kreatif Aksi lapang; Dan 3. Tim Kajian Isu, bertugas mengkoordinasikan tim kajian isu pertanian, nasional, bogor dan kampus. Tim ini harus merekomendasikan solusi isu berdasarkan referensi terpercaya dan kajian ilmiah. 

Sistem koordinasi kubagi menjadi tiga : 1. Rapat Pleno BEM se-IPB; 2. Rapat Bidang (Pertanian, Nasional, Daerah/Bogor serta Kampus); dan yang terakhir 3. Rapat Top Manajemen (Koordinasi empat Kementrian Kebijakan di BEM KM). Gerakan mahasiswa internal IPB pun dirancang berbentuk desentralisasi, dengan masing-masing Fakultas diberi nama formal ISPC sektor A, B, C sampai Diploma.

Untuk sistem regenerasi jangka panjang, aku mencanangkan terbentuknya IPB Political School. IPS merupakan sebuah program pengkaderan politik resmi pertama di IPB. Seiring perjalanan, tidak semua sistem kerja di atas berjalan optimal. Hal ini dikarenakan minimnya SDM berkompeten, kesibukan masing-masing fakultas , sistem koordinasi yang cenderung tidak mengikat dan belum stabil. Aku bersama teman-teman kembali mengevaluasi dan berusaha memperbaiki kekurangan serta kesalahan. 

Pada pertengahan kepengurusan, mahasiswa baru pada Bulan Juli mulai masuk. Mereka dengan semangat tinggi banyak yang ingin magang di BEM. Kesempatan ini kami gunakan untuk mengkader mereka melalui IPB Political School. Mereka kami berikan pembinaan intensif dan kesempatan praktik langsung di lapangan sebagai motor utama gerakan vertikal sekaligus horizontal mahasiswa IPB. Alhamdulillah, gerakan mahasiswa IPB kembali hidup dan sistem koordinasi dengan fakultas kembali ditekankan lewat program roadshow ke fakultas (jaring aspirasi langsung dari bawah). 

Gerakan vertikal kami mencakup; audiensi ke DPR/D, Departemen Pertanian, Dosen Ahli. Sedangkan gerakan horizontal meliputi bakti sosial ke desa, galang dana bencana alam, serta aksi solidaritas lain ,bekerjasama dengan Departemen Sosial dan Lingkungan Masyarakat BEM. Tak jarang kami pun melakukan pencerdasan isu publik di kampus lewat acara santai seperti 'ngariung sore', pentas topeng monyet, aksi teatrikal, dan aksi menarik lainnya.

Mungkin usaha kami belum terlihat secara signifikan secara kuantitatif. Akan tetapi aku bangga atas kerjasama yang solid dari teman-teman BEM. Harapannya mahasiswa sebagai wakil rakyat ekstraparlementer dapat lebih 'merakyat', semoga!

Mengapa Aku Ingin Menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar II ?

Siang itu pada Bulan April 2009 di salah satu ruang ber-AC Gedung MPR RI, sejenak aku menatap kagum pada sosok wajah lelah namun tegar dan lembut di depanku. Salah satu orang penting di negeri ini, pemimpin utama gedung rakyat yang kami duduki saat itu. “Oke, selain dia ada lagi yang ingin menambahkan?” suara tenang namun tajam beliau seketika menjawab kritikan dan keluhan panjang kami para aktivis mahasiswa.


“Baik, kalian mengatakan bahwa masalah di negeri ini banyak dan kompleks, dan kalian pun mengusung TUGU RAKYAT (Tujuh Gugatan Rakyat) untuk kami (pemerintah) sebagai solusi. Kalian tahu tidak, masalah utama bangsa ini apa? Ada yang tahu? Ya, masalah utama bangsa ini adalah MORAL!, begitu banyak orang pintar, orang hebat, program kerja pemerintah yang luar biasa di atas kertas. Akan tetapi sangat sulit untuk diaplikasikan. Mengapa? Karena bangsa ini miskin kepercayaan diri, malu dengan identitasnya sendiri. Anehnya di TUGU RAKYAT yang kalian usung saat ini, tidak satu pun yang menyinggung masalah moral!”

Oke, pada titik ini aku sepakat dengan beliau dan berpikir bahwa sebenarnya alasan utama mengapa semua ini terjadi di Indonesia yakni moral, karakter bangsa kita relatif lemah. Tak kukuh mempertahankan prinsip kebenaran yang hakiki. Atau jangan-jangan nilai kebenaran yang hakiki pun memang tak dimiliki bangsa ini? Oke, kita memang masih diperhitungkan oleh dunia, akan tetapi hanya karena memiliki jumlah penduduk besar dan sumber daya alam berlimpah. Kenyataannya, semua itu pun belum dapat memberi kesejahteraan bagi rakyatnya bukan?

Ah…entahlah, aku pun kembali berpikir apa yang bisa aku berikan untuk negeriku? sesaat aku mengingat awal mulaku mengenal kehidupan dulu. “Ayo, Kalo sudah besar mau jadi apa? Dokter, polisi, insinyur, guru…..” Yup, itulah pertanyaan serta jawaban yang selalu disebut orang-orang sekeliling kita semenjak kecil. Jawaban cenderung abstrak yang berbunyi, “Ingin berguna bagi nusa dan bangsa” pun turut mewarnai ingatanku. Apakah ini salah? Tentu saja tidak! Semua orang berhak mempunyai cita-cita dan mimpi ingin jadi apa ia kelak. Aku sangat terkesan dengan salah satu cuplikan dialog antara Arai dan Ikal dalam Film “Sang Pemimpi”. Arai berkata, “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu…Kalo ndak’ punya mimpi dan harapan, orang-orang macam kita (miskin) ini akan mati kal! 

Ya benar, kita harus bermimpi dan bangkit! Aku sendiri mempunyai cita-cita ingin menjadi pejabat tinggi daerah bidang ekonomi. Mimpi ini tentu tidak dapat langsung terwujud tanpa usaha, dibutuhkan rencana strategis yang jelas dan terarah. Aku ingin sebelum momentum antara kesempatan dan kematangan kepemimpinanku itu datang, aku telah mempunyai pengalaman riil melayani rakyat sekaligus menjadi inspirator para "Laskar Pelangiku" di daerah. Hal itulah yang memotivasiku ingin menjadi Pengajar Muda. 


“Karena aku dengan segala kekuranganku tidak ingin mati sebelum punya mimpi, kemudian berbagi dan mengejarnya bersama kalian