Sabtu, 05 Februari 2011

Idealis VS Pragmatis

“ Dimana mahasiswa???,kerjanya demo, kritik, menyalahkan pemerintah, selebihnya nol!”
“Malas ah aksi jalanan mulu…toh percuma juga, gak bakal didengar pemerintah…..”
“Mending kita belajar yang bener, bangun bangsa dengan prestasi kita…”
“Buat apa aksi turun ke jalan, aksi intelektual, aksi pengabdian ke masyarakat? Toh negeri ini masih saja seperti ini, kita gak punya power, legitimasi…percuma!!!”


Ada perasaan sia-sia yang menjalar perlahan di hati seorang aktivis. Malam itu semua usahanya meyakinkan akan pentingnya sebuah sistem pola pergerakan mahasiswa dalam rangka membentuk sebuah sistem pergerakan mahasiswa yang berintelektual luluh lantak saat itu juga. Rasanya semua energi intelektualnya sudah dikerahkan, Entah sudah berapa kali diskusi seperti ini dilakukan untuk memahamkan saudara-saudaranya di pergerakan mahasiswa kampus ini.

Begitu seterusnya, hingga sampai pertanyaan sederhana itu muncul. “Apakah ada sebuah sistem pergerakan mahasiswa yang membuat masyarakat di negaranya menjadi sejahtera? sehingga kita dapat berbicara. “mari teman-teman kita usung sistem pergerakan mahasiswa A dan kita akan bebas kelaparan setelah itu!”
Inilah realita-nya, sama kasusnya ketika kita para aktivis yang ‘semangat’ mempropagandakan idealisme kita sebagai mahasiswa kepada publik. 

Tapi itulah jurang gap dalam cara kita mengkomunikasikan ‘sistem’ kepada publik. Sementara kita menjelaskan keunggulan ideologi dan sistem yang abstrak, mereka mengharapkan contoh aplikasi yang sukses dalam kehidupan nyata. Sementara kita membanggakan keunggulan di dunia maya, tapi mereka hanya terpesona kepada yang unggul di dunia empiris. Sementara kita membanggakan betapa ’heroiknya’ mahasiswa di momentum reformasi masa lalu, mereka menyaksikan ’keterpurukan’ mahasiswa saat ini. Sementara kita menjelaskan teori, publik memahami teori lebih baik melalui contoh kasus, sekali lagi inilah realita kawan!

Idealis VS Pragmatis
Oke, mungkin ada baiknya kita mulai bertanya, bagaimana caranya kita merakit tools-tools kita? Sehingga kita akan bertemu dengan satu narasi besar yang di mix-kan dengan kapasitas, sumber daya dan manusia. Dalam hal ini kita tidak sedang membenturkan antara idealis dengan pragmatis. Kita khususnya para aktivis tak jarang terjebak dalam persoalan yang picik seperti ini, berpikir idealis kemudian kaku ketika terjun di dunia politik karena menganggap di politik menuntut orang menjadi pragmatis. 

Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, telah gamblang disebutkan bahwa idealisme (idealism) adalah sebuah bentuk penjelmaan norma-norma dasar yang bersifat luhur, dalam prinsip-prinsip dasar yang dipegang seorang manusia. Dari sini, jelaslah bahwa idealisme tidak terikat dengan oleh variabel waktu akan tetapi didapatkan secara kontinu lewat interaksi kita dengan lingkungan. Pragmatisme itu pun sebenarnya filsafat yang berkembang di zaman modern ini, yang intinya adalah mengukur kebenaran suatu kebaikan, suatu ide dengan hasilnya. Sebagian dari ide ini benar, tapi tidak seluruhnya benar. Jadi pragmatis sebenarnya bukan suatu cara untuk menghalalkan segala cara. Lebih dari pada itu, yang terpenting sebenarnya adalah apakah ide kita sesuai dengan realitas yang ada atau tidak? Sebuah sistem yang memang akan menjawab kegelisahan pada dunia nyata dan bukan hanya retorika semata.

Hal itulah yang membuat Soekarno jauh lebih unggul dan cerdas dalam mengelaborasi ide-idenya daripada Tan Malaka dengan ide komunisnya atau Natsir dengan ide Islamnya. Karena narasi Soekarno adalah negara Indonesia negara nasionalis, bukan negara komunis atau negara Islam! Begitu juga Soeharto, yang membuat orde baru besar adalah juga narasi, namanya pembangunan yang di-breakdown jelas lewat REPELITA, ekonomi, kesejahteraan, dsb. Lantas, pertanyaannya selanjutnya ; Mengapa Indonesia masa reformasi kini sangat lambat untuk maju, jawabannya karena sekarang kita belum punya narasi. Kita berada pada masa reformasi. Sebuah masa transisi tanpa narasi, belum ada narasi yang jelas, Indonesia mau dibawa kemana ?


Pergesaran Cara Berpikir
Rendahnya tingkat penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita sebenarnya merupakan realitas-realitas yang berakar pada cara kita berpikir. Tidak ada realitas kita yang tidak berakar pada pikiran kita. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan seluruh potret realitas kita secara apa adanya. Pikiran adalah ruang kemungkinan (space of possibility), dan realitas adalah ruang tindakan yang telah jadi nyata (space of action), jadi hipotesis kita kini makin besar ruang kemungkinannya, makin besar ruang realitasnya.

Sekarang sepakatlah kita, bahwa tindakan-tindakan kita muncul sebagai buah dari benih pikiran-pikiran kita. Jadi pikiran adalah pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan dan menciptakan realitas. Jika sistem kendali tindakan dan realitas kita ada pada pikiran-pikiran kita, hanya ada satu jalan memperbaiki realitas-realitas kita, yaitu mengubah pikiran-pikiran kita. 

Kini, sudah saatnya gerakan mahasiswa bergeser ke cara berpikir yang lebih ”cerdas”, kawan! Dengan menggunakan cermin realitas seperti diatas, persoalan sumberdaya ini muncul karena pada riil-nya pusat perhatian pikiran kita belum bergeser. Kita masih bicara apa yang diinginkan dan belum bicara apa yang sudah dilakukan.


Teruslah Optimis Membangun Bangsa Indonesia yang Lebih Bermartabat, GO ACTION!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar